Jumat, 06 Februari 2009

Waktu

Jakarta- Andaikan waktu dapat diulang, pasti semua orang akan membuat hidupnya lebih indah. Mereka akan mewarnai perjalanan hidupnya dengan tinta warna-warni yang cerah. Canvas kehidupannya pun lebih bergairah, lebih bermakna dan lebih terarah. Tapi apa benar semuanya akan lebih baik seandainya diberi kemampuan oleh Yang Maha Kuasa untuk merubah waktu? Kemungkinan itu selalu ada peluang, so jawabannya dapat ya dapat juga tidak. jika dikembangkan lagi, kira-kira peluangnya berapa persen?
10%, 20%, 50% atau berapa? Hal ini tidak dapat dihitung secara matematis, tergantung tekat dan kemauan.

Kisah seorang Raja yang berkuasa. Ketika butuh dukungan suara, janji setinggi langit, setelah dapat apa yang diinginkan jangankan realisasi janji pendukung sendiri dilupakan, rakyat kecewa, menderita karena aspirasinya tidak pernah didengar, janji yang dulu dielu-elukan fro rakyat hanya tinggal janji (just lips service). Waktu berkuasa terus berjalan hingga masa tugas pun berakhir. Lalu mencalonkan diri dalam pemilihan berikutnya. Dengan wajah dan janji yang dikemas dengan tampilan baru sang Raja pun ikut dalam kontes. Berkat pengalaman dan kepiawaian yang dimiliki pestapun dikuasai. Akhirnya menjabat kembali dengan pola lama. Janji manis waktu mendulang suara rakyat pun hanyut bersama euporia kemenangan. Sang Raja naik tahta untuk kedua kalinya. Format kepemimpinan lama muncul kembali, rezim dikembangbiakkan.

Kisah di atas dapat dilihat bahwa sang raja sebetulnya telah diberi kesempatan kedua (mengulang waktu). Pada kesempatan kedua seharusnya dipergunakan untuk memperbaiki kesalahan, menjadikan pengalam yang kemarin jadi guru dan acuan untuk melangkah lebih lanjut. Mendengarkan aspirasi rakyat, mempelajari/menganalisa dan melaksanakan kalau memang itu baik untuk kemaslahatan bersama. Memprioritaskan kesejahterakan rakyat. Kenyataannya Sang Raja tetap dengan gaya kepemimpinan lamanya. Rakyat tetap merana dan menderita.

Kalau dilihat dari perspektif yang berbeda, jika seandainya kita dapat mengulang waktu. Semua yang dilakukan dapat jadi berantakan dan asal, dalam artian lari dari koridor hukum yang berlaku. Karena dalam fikiran kita dapat saja muncul ” ga apa-apa nanti dapat di perbaiki ko’ ”. Masih ada harapan untuk mengembalikan keadaan ke bentuk semula. Kalau ini terjadi, maka semua akan semena-mena, melakukan sesuatu dengan seenak dengkulnya. Karena kalaupun salah masih dapat diulang untuk membuat kebaikan. Jadi dapat dibayangkan betapa crowded hidup ini.

Jadi menurut anda, apakah mengulang waktu itu selalu mendatangkan kebaikan dalam hidup? Apakah anda pernah merenungkan kembali impian anda untuk dapat mengulang waktu? Atau apakah sampai saat ini anda masih sering menghayal untuk dapat mengulang waktu? Tanpa sadar sering kita mengeluh, ”andaikan saya dapat mengulang waktu”. Tapi apa pernah kita fikirkan dampak besar yang akan timbul jika kita benar-benar dapat mengulang waktu. Tidak hanya kebaikan yang akan muncul, malah dapat-dapat bahaya besar yang akan menimpa jika hal ini terjadi. Maka alngkah Agungnya sang Pencipta yang menciptakan anak cucu adam dalam keterbatasan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar